Salah Kaprah: Peneliti Politeknik Terobsesi Jurnal Daripada Menghasilkan Produk Industri

PNP News. Keluaran penelitian dosen Politeknik selama ini serba tak jelas karena kebanyakan mereka lebih terobsesi menghasilkan artikel jurnal daripada menghasilkan produk nyata yang bisa dikonsumsi masyarakat dan industri. Ironisnya, seperti dosen universitas, mereka dominan bermain di level teoritis dan berperan sebagai pengamat daripada menggeluti ranah kerekayasaan yang menjadi jati diri lembaga pendidikan vokasi yang menaungi mereka.

Hal itu mengemuka dalam sosialisasi dan klinik proposal yang menghadirkan narasumber tunggal, Dr. Eng. Hotmatua Daulay, M.Eng., B.Eng., Direktur Pengembangan Teknologi Industri, Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang dimoderatori langsung oleh Dr. Yuhefizar, S.Kom.,M.Kom, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M)-PNP, di Aula Gedung Pustaka Lantai 2 PNP, 1 Juli 2019.

Bpk. Hotmatua Daulay sedang menyampaikan materi.

Dalam acara bertema Program Pengembangan Teknologi Industri dan Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional: Kebijakan Hilirisasi Penelitian dan Program Insentif Riset dan Pengembangan itu, Hotmatua Daulay mengemukakan fakta, meskipun proposal Insentif Insinas banyak tak lolos, namun untuk beralih ke Program Pengembangan Riset Industri (PPTI) ada kesan kengerian bagi peneliti untuk berkompetisi.

Tercatat, hibah Simlitabmas nyaris mendanai 24.000 penelitian, dan itu didominasi oleh disiplin ilmu sosial, pendidikan, dan budaya. Sementara itu, untuk sektor pertahanan dan kemanan hanya 97 judul, transportasi 430 judul, dan kemaritiman 567 judul. Meskipun demikian, jika dilihat dari level Technology Readiness Level (TRL)/ Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT), TKT Dasar (1-3) banyak sekali, 13.968 judul, TKT Terapan (4-6) sedikit, 10.364 judul, TKT Pengembangan (7-9) sangat sedikit 342 judul, paparnya.

Kengerian untuk menggeluti ranah sendiri itu diduga dikarenakan PPTI sudah tidak bicara akademik lagi, tapi bisa tidaknya produk penelitian itu dijual? Jika juri [baca reviewer, red.] di Insinas akademik banget, biasanya Profesor, juri akademisi di insentif PPTI cuma 1, levelnya pun S-1, tapi yang bersangkutan memiliki banyak pabrik atau perusahaan, reviewer sisanya adalah praktisi dari Kamar Dagang Industri (Kadin), dunia industri dan perusahaan.

Menurut Hotmatua Daulay yang baru saja melaksanakan pengujian untuk sidang mahasiswa program doktoral di Universitas Andalas itu, proposal yang dibuat secara akademik bagus belum tentu bisa diterima oleh pihak industri. Oleh karena itu, periset zaman sekarang juga dituntut untuk bisa membaca selera pasar dan berjiwa bisnis.

Pembabakan dalam Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) menurutnya mencakup 3 besar: dasar, terapan, dan pengembangan. Riset dasar melihat kelayakan teoritisnya, riset terapan melihat teknologinya memungkinkan atau tidak, tapi riset pengembangan melihat bernilai ekonomi tidaknya keluaran riset itu untuk dijual.

Ia mengaku, insentif PPTI alokasinya tak banyak, hanya berkisar 100 judul proposal saja yang dibiayai, namun tak banyak juga peneliti yang bernyali memasuki. “Saya heran, kok dosen Politeknik ikut-ikutan masuk ke riset dasar? Harusnya konsisten pada riset terapan sampai pengembangan”, tuturnya.

Tidak diterimanya proposal peneliti PNP untuk insentif Insinas bukan berarti proposal pengusul jelek, tapi mungkin karena memang dananya terbatas. Alokasi anggaran inentif PPTI dan Insinas itu sekitar 90 Miliar tapi yang mengajukan proposal mencapai 4.000-an judul, jadi persaingan ketat. Gelombang ke-2 berkisar 2.000-3.000-an judul tapi dana yang dikompetisikan tinggal 10 Miliar. Tambah ketat lagi persaingannya, terang Hotmatua Daulay.

Diakuinya, seleksi PPTI memang ketat. Meskipun peneliti menjanjikan keluaran risetnya 1 juta artikel jurnal, kalau tidak ada prototipe yang siap untuk industri, percuma saja.Kelahiran 1966 ini menyatakan, ketika peneliti telah bicara terapan dan pengembangan, ini berarti mereka sudah masuk ke dalam ranah kerekayasaan. Merekayasa sesuatu sama halnya dengan membuat sesuatu. Minimal dua disiplin ilmu dipadukan untuk menciptakan produk yang siap dikembangkan. “Ini riset-riset yang harus dibuat oleh dosen Politeknik”, tekannya.

 

Hotmatua juga menyorot peta belanja dunia di bidang litbang. Jika diumpamakan, belanja litbang Amerika sebesar bola basket, Cina sebesar bola voli, maka Indonesia kecil sekali, tidak berupa bola, hanya berupa serpihan salju. Kenapa itu terjadi? Karena penelitian mereka hanya untuk ditulis di jurnal. Belum sempat menjadi suatu produk untuk dijual, yang uangnya bisa digulirkan atau mendatangkan keuntungan. Penelitian mereka belum bisa dibuat menjadi produk-produk yang bisa dijual dan penelitinya mendapatkan paten atau royaltinya.

Kebiasaan peneliti Indonesia selalu melakukan riset dasar dulu, terus penelitiannya mau dibawa kemana tak jelas. Ujuangnya pun tak jelas. Penelitian yang tak jelas menghamburkan uang, sementara uang insentif penelitian kita sedikit.

Dicontohkannya konsep yang dikembangkan oleh NASA, mereka tidak membuat penelitiannya dari dasar dulu, tapi mau bikin apa dulu? Setelah jelas mau bikin apa, baru ditetapkan ilmu apa saja yang dibutuhkan, komponen apa saja yang dibutuhkan, kemudian dari sinilah mereka melakukan penelitian-penelitian yang mengarah kepada produk yang mau dibuat.

Ia juga menceritakan pengalaman peneliti yang berkonsultasi dengannya, yang hendak meneliti semua karakteristik tanah karena tak tahu ujung penelitiannya mau kemana? Namun setelah mengandaikan hendak bikin bangunan tahan gempa (gempa vertikal maupun horizontal) dengan ketinggian gedung 9 lantai, barulah peneliti dari Jurusan Teknik Sipil itu fokus memikirkan tanah yang bagaimana yang cocok untuk bangunan itu? Kemudian bagaimana merekayasa tanah yang ada sehingga kuat menahan bangunan itu ketika ada gempa? Jadi tidak semua tanah lagi yang dia periksa. Dia pun tetap bisa menulis jurnal karena sudah ada speknya.

Luaran Produk: Reputasi di Mata Masyarakat

Dalam sambutannya mewakili Direktur PNP, Revalin Herdianto, ST., M.Sc, Ph.D, Wakil Direktur 1, mengamanatkan, sebagai lembaga pendidikan vokasi, menghasilkan produk mestinya menjadi salah satu produk unggulan PNP. Kalau dulu peneliti dipaksa luaran penelitiannya adalah artikel atau jurnal-jurnal nasional dan internasional yang terindeks Scopus, maka sekarang tidak lagi, karena sudah ada perubahan sistem penilaian.

Sistem penilaian Scopus katanya bukan nomor satu lagi, tapi ada alternatif luaran seperti paten, HKI, atau produk, bahkan kalau di ilirisasi sampai diproduksi oleh industri, kinerja peneliti itu bisa meningkatkan peringkat lembaga PNP di program inovasi. “Karena kita adalah penelitian vokasi, sangat besar dampaknya bagi pemeringkatan institusi dan reputasi kita di tengah masyarakat”, jelasnya.

Beda Insinas dengan PPTI

Insentif Insinas bertujuan untuk peningkatan kapasitas individu dan lembaga litbang bagi daya saing nasional melalui inovasi, sedangkan insentif PPTI bertujuan untuk Peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam industri. TKDN adalah nilai isian dalam persentase komponen produksi dalam negeri, termasuk biaya pengangkutan yang ditawarkan dalam item penawaran harga barang maupun jasa.

Leader insentif Insinas diutamakan Lembaga Pemerintah Nonkementerian (LPNK) kolaborasi dengan lembaga litbang kementerian, perguruan tinggi, dan atau industri, sementara leader Insentif PPTI diutamakan industri kolaborasi LPNK/ Litbang kementerian/ perguruan tinggi, dan industri yang terlibat harus bersedia memproduksi hasil prototipe menjadi produksi massal.

Technology Readiness Level (TRL)/ Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) input insentif Insinas 1-6, TRL/ TKT input insentif PPTI 5-6. TRL/ TKT output insentif Insinas 1-9, TRL/ TKT output insentif PPTI minimal 7. Output insentif Insinas adalah Jurnal nasional dan internasional, prototipe lab, Teknologi Tepat Guna (TTG), sedangkan Insentif Insentif PPTI adalah prototipe, dan produk harus dapat diproduksi massa.

Bidang fokus insentif Insinas adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), hankam, energi, transportasi, pangan, kesehatan & obat, material maju & bahan baku, maritim, sosial & humaniora, kebencanaan, sedangkan Insentif PPTI adalah pengembangan teknologi hankam, TIK, energi, transportasi, pangan, kesehatan & obat, material maju & bahan baku, maritim.
d®amlis

 

Hits: 177

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *