Mahasiswa PNP Ciptakan Alat Pendeteksi Kesehatan Sapi

Tiga mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Padang (PNP) berhasil membuat alat yang berfungsi untuk memperoleh Informasi Kesehatan pada Sapi (ISEPI). Mereka adalah Rafki Mauliadi, Afdal dan Johan.

Dengan adanya pendeteksi sapi berbabis mikro kontroller ini, biaya pengecekan kesehatan pada sapi bisa ditekan. Dengan demikian, tentu biaya produksi peternak juga akan diminimalisir.

Dijelaskan oleh Rafki, ada tiga sensor di alat tersebut yang berguna untuk memperoleh kesehatan pada sapi saat alat dilekatkan ke bagian tubuh sapi.

“Kita mempunyai tiga sensor penting. Ketiga alat itu yakni, sensor suhu, sensor jantung dan nafas, serta sensor untuk melacak posisi dari sapi yang dipasangi alat tersebut,” kata Rafki, baru-baru ini.

Penelitian dan pembuatan alat ini, diketahui, dibantu oleh Guru Besar Fisiologi Reproduksi dan Kesehatan Ternak Jurusan Produksi Ternak Universitas Andalas (Unand), Prof Drh Endang Purwati RN MS PhD.

Karya kreatif tiga orang mahasiswa itu juga ternyata sudah lolos seleksi dan meraih dana penelitian dari Kemenristekdikti untuk pembuatan dan penelitian dalam progeam Pekan Kreatifitas Mahasiswa 2019.

Lebih lanjut dijelaskan, sensor suhu dipasang pada rektum (anus) sapi, sehingga dapat melihat langsung dari android berapa suhu sapi tersebut. Dia memilih untuk meletakkan sensor di rektum berkat hasil penelitian dan disimpulkan bahwa pengecekan suhu sapi paling tepat adalah di rektum.

Kemudian, sensor jantung dan nafas berfungsi untuk mendeteksi detak jantung serta mengetahui perubahan pada nafasnya. Sensor ini dipasang di bagian dada bawah sebelah kiri sapi. Sehingga, apabila sapi mengalami sakit, dapat langsung diketahui, apakah melalui suara nafas, atau pun jantung.

Terakhir, sensor melacak posisi yang berfungsi untuk melihat posisi sapi melalui fitur GPS yang terhubung ke android pada alat tersebut.

“Untuk biaya pembuatan satu alat hingga jadi, membutuhkan biaya Rp700 ribu dengan lama pembuatan lebih kurang 1 bulan. Alhamdulillah untuk pembuatan dan penelitian, kami telah didanai oleh Kemenristekdikti,” kata Rafki lagi.

Rafki menyatakan, ide kreatif ini terpikirkan oleh dirinya dan rekannya karena mengingat biaya pengecekan kesehatan sapi ke dokter cukup mahal.

“Setelah dilakukan penelitian, ternyata peternak sapi juga kewalahan untuk mengecek kesehatan sapinya,” ujar Rafki.

Ditambahkan, Rafki dan rekan akan ikut Monev di Unand. Dia menegaskan optimis untuk bisa memproduksi dan memasakan alat tersebut.

“Bagaimana pun hasilnya, kami telah berdiskusi dan berencana untuk melanjutkan produksi alat ini untuk dijual kepada para peternak sapi, serta menyosialisasikan penggunaan alat ini kepada peternak sapi,” kata Rafki. (009)

Sumber : SumbarFokus.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *